Biopori atau lebih tepatnya, "lubang resapan biopori" adalah salah satu metode yang digunakan, untuk mengurangi genangan air pada permukaan tanah, serta meningkatkan efisiensi resapan air pada tanah.
Metode ini pertama kali dicetuskan oleh salah seorang peneliti dari IPB, Dr. Kamir R Brata.
Tanah dilubangi dengan kedalaman yang mencapai 1 meter, dan diisi dengan sampah organik, guna menjadikan sampah organik tersebut menjadi kompos yang terurai didalam lubang biopori, yang berguna bagi tumbuhan-tumbuhan disekitar lubang biopori tersebut, serta terciptanya pori-pori di dalam tanah secara biologis, yang berguna meningkatkan efisiensi tanah dalam meresap air.
Untuk lebih lengkapnya silahkan klik disini http://id.wikipedia.org/wiki/Biopori
Salah satu kegiatan biopori yang saya dan teman-teman dari Binus University lakukan pada sebuah paud yang berlokasi di Jalan H. Sholeh I RT.008 RW.08 Kel. Sukabumi Selatan, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
- SurveiPada hari Rabu, 15 Oktober 2014, saya dan teman-teman melakukan survey terhadap lokasi kegiatan yang akan saya dan teman-teman lakukan. Saya dan teman-teman, mempersiapkan surat izin untuk mendapatkan izin dari Ketua RT, di lingkungan paud yang akan saya dan teman-teman tuju, saya dan teman-teman pun akhirnya berangkat menuju lokasi paud, walaupun belum tau persis lokasi paud yang dituju, tetapi berkat bantuan GPS dan bertanya kepada masyarakat sekitar, akhirnya, saya dan teman-teman sampai pada lokasi yang dituju. Saya dan teman-teman pun, langsung ke ketua RT.08 di lingkungan paud untuk mendapatkan izin, namun karena beliau berhalangan untuk menerima saya dan teman-teman, disebabkan ada urusan pribadi, akan tetapi beliau merekomendasikan saya dan teman-teman untuk menuju ke Ketua RT yang satunya, akhirnya saya dan teman-teman pun menemui Wakil Ketua RT tersebut.
Setelah saya dan teman-teman berbincang dengan beliau, beliau pun setuju dan saya beserta teman-teman, diperkenalkan kepada ibu kepala paud yaitu, Ibu Hasanah untuk dibicarakan lebih lanjut mengenai pembuatan lubang biopori. Saya dan teman-teman pun memberikan pengarahan mengenai biopori kepada Ibu Hasanah dan ibu-ibu warga sekitar paud pada sebuah pos.

Pengarahan mengenai Biopori
Setelah itu, saya dan teman-teman sepakat dengan beliau akan waktu yang dilaksanakannya kegiatan pembuatan lubang resapan biopori tersebut, serta, lokasi pembuatan atas survei yang telah saya dan teman-teman lakukan dilokasi paud.
- Pelaksanaan KegiatanPada hari Senin, 20 Oktober 2014, saya bersiap-siap bersama teman-teman untuk menuju ke lokasi paud, dengan membawa peralatan, seperti, paralon dengan panjang kurang lebih 30cm dan diameter 10 cm sebanyak 10 buah, semen, alat untuk membuat lubang biopori, dan sekop kecil. Saya dan teman-teman pun berangkat menuju lokasi, dan sesampainya di sana, saya dan teman-teman pun langsung mengerjakan pembuatan lubang resapan biopori.Pembuatan lubang resapan biopori, kami lakukan dengan alat yang cara pemakaiannya, dengan cara di tekan ke tanah, lalu diputar ke kanan, dengan sekuat-kuatnya, setelah itu, saya dan teman-teman memasukan paralon sepanjang hampir 30 cm, lalu saya dan teman-teman menyemen sekeliling paralon tersebut, agar bagian mulut lubang tidak mudah hancur (longsor), mengingat tanah yang kurang bagus.
Awalnya saya dan teman-teman lancar-lancar saja dalam pembuatan lubang resapan biopori, namun setelah membuat lubang ke 5 - 10, saya dan teman-teman mendapat beberapa kendala, seperti, tanah jelek, sehingga tidak bisa dibuatnya lubang dengan sebaik mungkin, kemudian, batuan yang besar di dalam tanah, sehingga sulit untuk dibuat lubang, mengingat, tanah tersebut merupakan tanah timbunan. Akan tetapi, dengan kerja keras saya dan teman-teman, pada akhirnya masalah-masalah tersebut dapat diatasi, dan target saya dan teman-teman untuk membuat 10 lubang biopori pun akhirnya tercapai. Setelah dibuat lubang-lubang tersebut, saya dan teman-teman tidak lupa untuk mengisi penuh lubang tersebut dengan sampah-sampah, organik. Mayoritas dari sampah organik yang saya dan teman-teman masukan ialah sampah dedaunan, yang mana, banyak terdapat pada lokasi disekitar paud. Setelah itu, saya dan teman-teman pun menutup lubang tersebut guna menjaga lubang tersebut dari kerusakan luar.



- Pemantauan Pertama
Kamis, 23 Oktober 2014, merupakan pemantauan pertama oleh saya dan teman-teman, pada lubang resapan biopori, yang sebelumnya telah kami kerjakan. Kondisi lubang tersebut masih baik dan sampah organiknya pun masih banyak, dan ternyata, penguraian sampah organiknya tidak secepat yang kami kira, sekitar 2-3 hari. - Pemantauan Kedua
Selasa, 28 Oktober 2014, merupakan pemantauan yang kedua kalinya yang dilakukan oleh saya dan teman-teman, kondisi lubang biopori, dan sampah-sampah organik sudah mulai, membusuk dan mengurai, walaupun sebetulnya sampah-sampah tersebut masih terisi penuh, dan saya beserta teman-teman, hanya mengisi ulang sampah organik, sedikit dari beberapa lubang tersebut. - Pemantauan Ketiga
Kamis, 6 November 2014, merupakan pemantauan saya dan teman-teman untuk yang ketiga kalinya, saya dan teman-teman memantau kondisi lubang biopori tersebut, kondisinya, sudah mulai tidak baik, ada yang paralon yang copot pada bagian muka lubang, penguatan semen pada paralon yang sudah mulai hancur, serta ada salah satu lubang yang longsor, akibat tanah yang sangat basah. Tetapi, saya dan teman-teman, sudah memperbaiki lubang tersebut, serta mengisi ulang sampah-sampah organik yang ada pada lubang biopori tersebut.
Melihat sampah-sampah organik yang masih banyak, dan lamanya sampah tersebut mengurai, saya dan teman-teman pun menyimpulkan, bahwa pengisian ulang sampah-sampah organik tersebut, setidaknya dilakukan setiap 1-2 minggu sekali.
KAHFI RIDHO SANTOSO (1801450762)


No comments:
Post a Comment